Karang Gantungan hingga Fosil gigi Megalodon: Fragmen kisah Junghuhn di selatan Jampang (Part I)

  • Whatsapp

Karang Gantungan menjadi tempat wisata populer di Jampang Sukabumi pada awal tahun ini, tempat favorit untuk swafoto dengan latar belakang pulau kecil dari batu yang menjulang berbentuk piramid. pantai ini memiliki eksotisme tersendiri dan tersembunyi dengan tenang di selatan Jampang pada koordinat 7° 22′ 50.55″ LS dan 106° 29′ 36.76 BT.  Namun sedikit yang mengetahui, pada sekitar 183 tahun yang lalu seorang Naturalis berkabangsaan Hindia Belanda Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) pernah ke tempat ini, Junghuhn orang pertama dalam sejarah yang mendeskripsikan dan mendokumentasikan batu karang Gantungan serta dua pulau kecil di sebelah baratnya, yaitu Karang Balekambang dan Pulau Muara Cikarang, Junghuhn pun sempat takjub pada tempat ini.

Foto: Dani Bachtiar.

Daerah Jampang tidak tersiahkan dari perhatian Junghuhn, ia telah menapaki banyak tempat, mungkin hampir setiap tempat di Pulau Jawa, demi menyingkapkan misteri-misteri morfologi, botani dan keseluruhan bentuk fisik pulau Jawa. Junghuhn menjelajah District Djampang antara tahun 1837-1838, dimulai ketika ia memasuki kawasan Patengang (Patenggang Kabupaten Bandung) dahulu masuk dalam District Djampang Wetan yang berbatasan langsung dengan District Tjisondari. Junghuhn meneruskan perjalanan ke selatan Tjidamar (sekarang Kecamatan Cidaun), hingga ke pedalaman antara sungai Cikaso dan Sungai Cikarang dimana Junghuhn juga menemukan sejumlah fosil binatang laut selama perjalanan. Dengan menunggangi kuda atau berjalan kaki ditemani oleh beberapa anak buahnya orang pribumi. Sang Pengembara pun sampai pada tebing tinggi yang dihadapkan pada ombak samudera, ia menemukan batu berbentuk menara yang disebut Karang Gantungan, tepatnya di timur muara Cikarang, kemudian ia abadikan pada sketsa dan catatannya.

Bacaan Lainnya

Karang Gantungan pada peta Junghuhn 1855

 

 

 

 

 

 

Tiga buah pulau mungil yang berjajar di pantai Cikarang merupakan batuan karbonat (CaCO3) jenis batu kapur/gamping tampak lapisan atasnya (limestone)lebih muda dan rapuh sementara lapisan bawah,  batuan sedimen, yakni penyangganya  lebih keras, kokoh dan berwarna lebih gelap. Pulau-pulau ini terbentuk akibat abrasi, dahulunya, daratan induk meluas kurang lebih 100 meter ke laut dan menjadi satu kesatuan daratan dengan pulau-pulau itu, namun keganasan laut selatan telah mengikis perlahan-lahan, merusak dan memisahkannya, tampak menyisakan tiga gundukan bekas daratan seolah-olah terapung di lautan sebagaimana yang sekarang kita bisa saksikan, proses ini berlangsung dalam waktu yang lama. Di bibir daratan saat ini yang menghadap laut terdiri dari tebing-tebing curam tak beraturan dan reruntuhan sisa erosi atau abrasi, serta sesekali tampak fosil-fosil biota laut di bongkahannya, dan juga terdapat rongga-rongga gua.

 

keheningan Muara Cikarang di pagi hari

 

 

 

 

 

 

Mulut sungai Cikarang bagi Junghuhn lebih menyerupai cabang lautan dari pada sungai karena cukup lebar dan dalam dengan airnya yang payau, lebarnya saat ini  100 meteran atau lebih. Ke arah timur dari muara cikarang permukaan tebingnya meninggi Junghuhn menaksir ketinggian tebing atau daratannya  antara 150-200 kaki di atas permukaan laut, hal ini bukan karena pengangkatan, melainkan permukaan rendahnya terbentuk akibat erosi. Di bawah tebing diselimuti langsung oleh ombak-ombak yang bergemuruh dan mendesis, sementara rumput ilalang dan hutan-hutan menyebar di atasnya. Tanamannya waktu itu terdiri dari pohon gebang, pandan laut, dan pepohonan hutan yang dikelompokan kepada wilayah Junghuhn ke-7 dari zona panas. Tebing-tebing curam yang ditutupi oleh pemandangan hijau ke pedalaman begitu menawan untuk Junghuhn dilengkapi lautan dimana tebing tinggi yang ia pijaki dindingnya jatuh langsung secara vertikal ke laut, seperti anak tangga tunggal, “sangat indah!” tutur Junghuhn.

Deburan ombak-ombak di sini tidak menemui hamparan pasir luas dan rintangan terumbu, melainkan menampar ke dinding daratan dengan keras. Bagi Junghuhn di tempat ini terdapat banyak bukti fasih yang dipertontonkan yakni tentang dampak destruktif yang diberikan oleh laut. Dua buah gua akibatnya juga tercipta, yang Junghuhn temukan, di dalamnya terdapat sarang burung walet yang bisa di makan, dan lima batu berbentuk menara yang terisolasi jauh dari dinding pantai (dua lagi batu Karang Panganten di sebelah barat(?)). Junghuhn juga menyadari potongan pulau-pulau itu  adalah sisa bentangan daratan yang jauh ke laut di masa lalu.

 

Karang Gantungan

sketsa Karang Gantungan Junghuhn

 

 

 

 

 

 

Pulau pertama yang Junghuhn deskripsikan adalah Karang Gantungan, batu karang ini terdapat paling timur dari ketiga pulau dekat muara Cikarang lainnya. Sebuah sketsa sederhana menjadi bukti kehadiran Junghuhn di Karang Gantungan, bentuk sketsanya pun tidak jauh berbeda dengan sekarang. Junghuhn menyebut batu karang gantungan ini memiliki bentuk “seperti kue”, yang berdiri di atas piring, berbentuk piramida, tetapi penopang di bawahnya benar-benar seperti meja yang datar, rata dan luas, pada saat air laut pasang, penopangnya tenggelam, air laut juga yang membentuk cekungan dibagian bawah batu ini. Junghuhn menaksir ketinggian Karang Gantungan sekitar 150 kaki, dengan puncak yang bundar, dan dipenuhi tanaman-tanaman hijau, seperti pada sketsa. Pada dinding tebing sebelah timur karang gantungan juga terdapat Goa Walet (Goea Tjikarang). Goea Tjikarang memiliki tinggi 50 kaki dan panjang 200 kaki, lapisan dasar  gua ini ditutupi dengan air setinggi 5 kaki dan waktu itu terdapat 200 an sarang burung walet. Selintas seperti itu gambaran Junghuhn yang menyaksikan Karang Gantungan. Asal usul nama atau toponimi Karang Gantungan berasal dari aspek visual bentuk batu karang yang menyerupai piramid yang tergantung di lautan.

sketsa mulut gua Walet Cikarang

Karang Balekambang

sketsa Karang Balekambang dan Gua Pandan oleh Junghuhn

 

 

 

 

 

 

Pulau ini terletak di sebelah barat Karang Gantungan. Apabila nama Karang Gantungan berasal dari karang yang seolah-olah menggantung, Karang Bale-kambang sebaliknya, berasal dari kata bale (rumah/kuil) dan kambang (terapung), apabila digabungkan memiliki arti secara harfiah rumah atau kuil yang terapung (ngambang) sebagaimana penampakan pulau tersebut . Nama Balekambang juga terdapat di salah satu pantai Malang  dan identik dengan batu karang yang seperti mengambang. Dataran dan lapisan batu di  area Karang Balekambang miring melandai pada sudut kira-kira 3 derajat ke selatan dan ada sedikit area pasir serta aktrasi blowhole walaupun masih sangat kecil. Pulau ini berhadap-hadap dengan Gua Pandan dan dipisah oleh lautan. Gua ini pun ada dalam catatan dan sketsa Junghuhn. keunikan gua ini memiliki bentuk atap pintu yang datar, (saya awalnya sempat mengira itu bunker zaman Jepang, karena pintunya menyerupai persegi). Gua Pandan di area pantai Karang Balekambang memiliki tinggi 40 hingga 50 kaki, panjang 180 kaki dan menghasilkan 70 sarang walet pada zaman Junghuhn; dasar gua berada di bawah permukaan laut dan tergenang air setinggi 9 kaki.

gua pandan

 

 

 

 

 

 

Pulau Muara Cikarang

Foto Pulau Muara Cikarang

 

 

 

 

 

 

Masyarakat Jampang sudah tidak asing dengan Pulau Muara Cikarang karena menjadi ikon Villa Asabaland, sebelumnya dikenal Villa AmandaRatu. Pulau ini berada di samping kiri muara Cikarang, dan paling barat dari ketiga pulau dalam bahasan ini. Cara untuk melihat pemandangan dengan dekat ke pulau ini jauh lebih mudah, tinggal memasuki sebuah villa diantara perkebunan Kelapa/Gula Nira. Menurut Junghuhn pulau ini dihuni oleh banyak kelelawar dan sejumlah kecil sarang burung walet terdapat di sana. Ketiga pulau yang telah dibahas, pada zaman Junghuhn secara administrasi masuk ke dalam Desa Landak, District Djampang Koelon, Afdeeling Tjiandjor dan Kabupaten Priangan. Saat ini masuk ke Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Desa Landak sekarang menjadi perkampungan, yakni Kampung Cilandak, Desa Pasiripis.

sketsa Pulau Muara Cikarang,Karang Balekambang dan Karang Gantungan

Saat ini, Pantai Karang Gantungan di kecamatan Surade merupakan bagian dari area Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dan menjadi alternatif wisata yang baru. Selain pemandangan yang indah, kita juga bisa membeli dan menikmati hasil tangkapan ikan atau lobster karang dari nelayan lokal. Karang Gantungan bisa dikembangkan lagi menjadi wisata berkelanjutan seperti Geowisata, sebab bagi saya, Karang Gantungan atau wilayah Cikarang lebih luasnya sudah cukup memenuhi kriteria untuk dijadikan geosite, diantaranya memiliki informasi-informasi geologi, aktrasi dan estetika yang unik, memiliki cerita sejarah, serta dapat bermanfaat bagi pendapatan masyarakat lokal.

ditulis oleh: Rifaldi Efriansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *