Part II. Hiu Megalodon (O. megalodon) si penguasa laut Jampang Purba yang terlupakan

  • Whatsapp
Part II. Hiu Megalodon (O. megalodon) si penguasa laut Jampang Purba yang terlupakan.

suatu bayangan hitam-gelap si hiu raksasa dalam cover ini bermakna bahwa keberadaanya di masa lampau kian terlupakan dan hanya menjadi bayang-bayang saja. Teks “Megalodon” yang samar berwarna hitam berada di baliknya, dengan huruf “A” diganti sebuah gigi hiu megalodon, suatu fosil gigi yang bisa kita amati dan merupakan bukti sisa-sisa kehidupan megalodon jutaan tahun silam. Tapi, sebut saja fosil itu “huntu gelap!”  “Gelap” sebab belum ada penelitian yang menerangkan secara rinci, tidak ada monumen atau artwork, signboard, hingga peragaan fosil di wilayah temuan yang bisa “menerangkan” kepada masyarakat. Namun, apabila diperhatikan lagi dibalik sosok gambar yang gelap terdapat outline “terang” berwarna oranye, bermakna sebuah keinginan akan adanya penelitian dan perhatian yang berarti suatu waktu dalam bentuk apapun oleh pihak manapun, tulisan di kajampang.com ini adalah upaya kecil untuk itu, terkait identifikasi dan keberadaan megalodon yang pernah menghuni laut Jampang purba. Sekilas semiotik dari desain gambar yang “gelap-terang” ini. Sebetulnya saya bermaksud melanjutkan tulisan sebelumnya yakni tentang Junghuhn di selatan Jampang, namun referensi tentang megalodon dalam Junghuhn masih gelap dan  perlu direvisi, dilengkapi atau diupdate…

Selama perjalanannya di Priangan selatan,  Junghuhn telah menemukan dan mendata sejumlah fosil binatang laut sebagian besar filum moluska,  paling tua setidaknya berumur miosen, Junghuhn hanya menemukan satu spesies fosil vertebrata, yakni gigi hiu purba yang ia tuliskan dengan nama ilmiah Carcharias megalodon, ditemukan di perbatasan antara district Djampang Wetan dan District Tjidamar.  Namun masyarakat di sana mengenalnya bukan sebagai gigi hiu, tetapi gigi petir atau disebut “Huntu Gelap”. Uniknya masih bisa menentukan bahwa benda itu adalah gigi, sementara pada orang-orang eropa abad ke 17 mengira fosil itu sebagai ujung lidah naga yang membatu, keduanya sama-sama berbalut mitos sebelum pada abad ke 19 saintis mendeskripsikannya sebagai fosil gigi hiu Megalodon, yang berarti  Gigi Raksasa.

Bacaan Lainnya

Mitos huntu gelap

Dahulu dipercayai bahwa sang petir atau disebut “Gelap” yang menggeledek pada musim hujan sesekali menyebabkan kerusakan parah sebagai senjata malaikat yang memburu Iblis, mirip cemeti dewa yang mencambuk para buta. Dalam petir ini, bagian paling berbahaya adalah gigi, huntu gelap, yang membawa sekelebat cahaya. Karena berbahaya, ada pantangan-pantangan ketika petir-petir bergelegar, seperti larangan (pamali) menutup telinga setelah melihat kilat-kilat petir dan  ketika berada diluar, untuk menghindarinya kita harus berteduh di bawah pohon Kanyere (Bridelia glauca Bulme) atau membawa rantingnya yang berdaun. Di sisi lain, masyarakat  di selatan Priangan sering menemukan gigi batu berukuran besar dan berbentuk kapak segitiga yang keras, di sampingnya memiliki gerigi seperti gergaji. Mereka mengira bahwa benda tersebut lah yang membelah pohon besar dan memotong pangkal kelapa membakarnya hangus, kemudian orang Jampang dahulu menyebutnya “Huntu Gelap” dan tak jarang dijadikan jimat  selayaknya pusaka karena dianggap memiliki magis dan tuah. Tetapi, pada kenyataannya benda itu adalah fosil gigi predator makro terbesar, yang pernah hidup di laut jutaan tahun silam, yakni Megalodon, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena petir. Mitologi folklorik tentang huntu gelap mungkin ada di beberapa wilayah di Jawa Barat dengan orientasi bentuk dan material berbeda-beda, tetapi huntu gelap yang merujuk pada fosil gigi megaldon dapat dijumpai di daerah Pajampangan.

Fragmen fosil megalodon di Jampang hanya ditemukan giginya saja, karena selain gigi, tulang di seluruh tubuh megalodon terdiri dari tulang rawan yang akhirnya melapuk (tidak memfosil). Fosil-fosil gigi ini sering ditemukan di wilayah yang berbatu gamping atau batu kapur pasiran, masyarakat juga sering menyebutnya batu cadas, baik itu dalam gua, singkapan batuan, galian, longsoran, atau muncul dari proses erosi sungai dan hujan.

Sejauh ini, belum ada penelitian dan publikasi berarti terkait keberadaan megalodon di laut Jampang purba, yang menentukan jenis spesies, taksonomi, usia, dan sebagainya. Kendati Junghuhn telah menulisnya sebagai fosil gigi hiu purba dengan nama ilmiah Carcharias megalodon, tetapi ini masih sangat awal, hanya berselisih belasan tahun dari pendeskripsian pertama tentang megalodon (1835), sedangkan penelitian dalam kancah dunia masih berlangsung dan penuh revisi serta perdebatan hingga saat ini. Mungkin awalnya Junghuhn mengira megalodon adalah leluhur langsung dari hiu putih besar (carcharias) karena ada kemiripan secara bentuk gigi yang bergerigi, segitiga dan simetris. Seperti hal nya pendeskripsian awal megalodon yang memiliki nama ilmiah Carcharodon megalodon, ini dikenal sampai akhir 1990-an. Setelahnya, para ilmuan memasukan megalodon dalam genus, evolusi dan taksonomi berbeda dengan hiu putih besar (great white shark), kemudian dikenal dengan nama ilmiah Carcharocles megalodon sekelompok lain memasukannya dalam genus Otodus, tetapi pada publikasi-publikasi terbaru digabungkan semua taksa hiu bergigi besar antara genus Carcharocles dan genus Otodus dalam “genus Otodus”.

Perkembangan taksonomi ini memudahkan dalam penentuan nama ilmiah, setiap hiu disebut bergigibesar apabila panjang gigi nya melebihi panjang maksimal gigi hiu putih yakni 5-6 cm. Bisa dipastikan bahwa setiap fosil megalodon yang ditemukan di Jampang dengan ukuran melebihi 6 cm memiliki nama ilmiah Otodus megalodon yang sudah dewasa, sejauh ini ukuran terpanjang gigi megalodon di dunia mencapai 17,8 cm.

Survei di Desa Cimahpar

Lokasi penemuan fosil Otodus megalodon di desa Cimahpar, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi

Di Jampang sendiri tidak ada data pasti berapa spesimen fosil gigi hiu purba megalodon yang pernah ditemukan, tetapi sebaran penemuannya cukup luas, dari kecamatan Segaranten, Cidolog, Kalibunder, Cibitung, Surade sampai kecamatan Ciracap, namun tidak terdata dengan baik. Pada tanggal 6 september 2018, kami bersama tim Museum Geologi, melakukan survei ke kampung Cangkuang, Desa Cimahpar, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, koordinat 7° 19′ 27.91″ LS- 106° 41′ 3.13″ BT, di mana ada laporan seorang warga yang menemukan fosil gigi hiu purba dipermukaan batuan kapur bermineral karbonat kaya lumpur, yakni di sekitar sungai kecil yang mengairi sungai Cikaso. Fosil ini muncul ke permukaan akibat proses erosi, serta terdapat fosil lainnya yang telah ditemukan beberapa tahun silam dari proses penggalian sumur sedalam 13 meter di kampung yang sama.

fosil gigi megalodon yang ditemukan di desa Cimahpar, Gambar a
fosil gigi megalodon yang ditemukan di desa Cimahpar, Gambar b

Fosil pertama (Gb. a) yang ditemukan pada 2018 memiliki bentuk utuh dengan panjang 7 cm sementara fosil kedua (Gb. b) memiliki panjang 13 cm terbelah akibat benturan ketika penggalian, dua spesimen ini jelas merupakan gigi Otodus megalodon karena ukurannya yang besar dan pita gigi berbentuk V yang terawetkan dengan baik.

Umur atau masa kehidupannya belum diketahui secara ilmiah, tetapi masih bisa dilakukan hipotesa sederhana. Kemuculan hiu bergigi besar dalam sejarah berada pada interval kala Miosen-Pliosen, atau Miosen-Pleistosen(?). Sementara proses sedimentasi dan pengendapan lautan dangkal di lokasi temuan terjadi pada periode Neogen. Pengamatan pada stratigrafi dan peta paleogeografi lokasi temuan menunjukan bahwa periode Neogen secara gradual terjadi pengendapan batuan karbonat bermula pada miosen tengah. Fosil yang ditemukan adalah Otodus megalodon berukuran cukup dewasa (dari bentuk-panjang giginya), karena pada masa Miosen tengah-Pliosen (awal zaman es) terjadi pengendapan lautan dangkal menuju daratan yang hanya memungkinkan dihuni oleh Otodus megalodon muda-remaja yang menghindari bahaya Otodus megalodon dewasa, fosil berukuran besar yang ditemukan hidup pada perairan sedang-dalam yang ditunjukan pada interval kala Miosen awal-Miosen tengah seperti gambar yang merujuk pada sumber  Clement dan Hall (2007).

 

Kemunculan Otodus megalodon di desa Cimahpar ini dapat disimpulkan berasal dari kala Miosen awal hingga Miosen tengah 23-11, 6 Juta tahun yang lalu. Untuk mendapatkan usia yang lebih presisi, di sisi barat sungai Cikaso sebagai lokasi akan keberadaan fosil ini masuk dalam formasi Jampang, zona Pegunungan Selatan Jawa barat yang memiliki evolusi tektonik yang kompleks dan perlu penelitian stratigrafi lebih mendalam lagi meliputi penyelidikan tektonik regional, magnetostratigrafi, biostratigrafi, dan formasi sungai Cikaso. Sebuah peluang. Apabila berkaca pada penelitian-penelitian luar negeri dalam jurnal atau artikel, sepertinya catatan fosil megalodon di Nusantara (Pulau Jawa, Madura hingga Kalimantan (Brunei)) pada umumnya diabaikan. Dengan demikian, ini bisa menjadi peluang penelitian yang baik, bagaimana fosil fosil yang ditemukan berperan dalam laju penelitan megalodon secara global.

Refleksi

Dahulu fosil tersebut dianggap mistis, saat ini banyak diburu, diperjual-belikan atau sekedar koleksi sendiri, sebenarnya temuan itu sangat bermakna bagi penelitian dan sebaiknya atas kesadaran yang baik bisa melaporkan atau mendonasikan ke kampus-kampus terbaik dan institusi yang konsern terhadap Paleontologi dan kepurbakalaan, tetapi apabila tujuannya koleksi pribadi, fosil itu diberikan pencatata meliputi koordinat titik Lokasi temuan (in situ) dan karakteristiknya. Penemu yang berbesar hati lah yang bisa menyumbangkannya untuk penelitian dan pendidikan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020.

Penulis: Rifaldi Efriansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *