Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai

  • Whatsapp
Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah
Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah

Palabuhanratu adalah kawasan pantai yang menjadi ibu kota kabupaten Sukabumi saat ini, berada di barat daya wilayah kabupaten Sukabumi, sejak zaman Hindia Belanda kawasan Palabuhanratu dan sekitarnya tersohor akan keindahan alamnya, selain itu di kalangan bangsa Eropa, Palabuhanratu lebih familiar dengan sebutan teluk Wijnkoops (Wijnkoops baai). Wajar pada saat ini kawasan Palabuhanratu dan sekitarnya menjadi kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (UGG-CP). Ada hal lain yang melekat pada banyak orang tentang Palabuhanratu, yaitu mitologi Nyi Roro Kidul, Ratu penguasa pantai selatan, tapi bagaimana asal-usul nama Palabuhanratu dalam catatan terdahulu?

Toponimi Palabuhanratu

Bacaan Lainnya

Bersumber pada Babad Bogor dalam  tulisan R. Satjabrata pada Buku Dongeng2 Sasakala (1966), dan Pantun-pantun buhuh/Pajajaran yang ditulis Raffles pada buku History of Java (1817). Sumber-sumber ini berkaitan dan selaras dalam mengisahkan asal-usul nama Palabuhanratu, kesimpulannya Toponimi Palabuhanratu berasal dari kata Pa-Labuhan dan Ratu, Pa merupakan imbuhan dalam bahasa Sunda yang menandakan suatu tempat, labuhan berarti mendarat, sementara Ratu adalah gelar pemimimpin pemerintahan (eksekutif) di Kerajaan Pajajaran/Sunda a.k.a Prabu Siliwangi. Singkatnya, Palabuhanratu dapat diartikan tempat berlabuhnya atau mendaratnya seorang ratu (Prabu Siliwangi) dari suatu perjalanan laut (royal anchorage place).

Kisah ini bermula ketika Prabu Siliwangi mengunjungi wilayah Sumedang dari Pakuan Pajajaran, sang Prabu menikah, pertama dengan Nyai Raden Raja Mantu/Nyi Raden Raja Mantri kedua dengan seorang putri penggawa kerajaan, dan kelak Prabu Siliwangi akan mempunyai banyak istri. Pada saat bersamaan sang Prabu juga mendapat gelar Baginda Maha Raja Prabu Siliwangi. Selama di Sumedang, Prabu Siliwangi ditemani oleh dua bersaudara yang kuat nan menawan yaitu Ki Gelap Nyawang dan Ki  Kidang Pananjung/Ki Kidang Panjang. Dua bersaudara ini dalam Dongeng2 Sasakala karya R. Satjabrata adalah putra-putra dari Ki Jampang (Penguasa daerah Jampang dan tangan kanan Prabu Siliwangi), sementara dalam tulisan Raffles dua bersaudara ini adalah putra-putra Lutung Kasarung.

Prabu Siliwangi setelah mempunyai banyak istri dan penggawa, ia merindukan tempat asalnya, Pakuan Pajajaran, dan memutuskan untuk kembali dengan membawa seluruh anggota keluarga, Ki Gelap Nyawang, Ki Kidang Pananjung serta Ki Jampang yang kemudian berubah nama menjadi Purwa Kala. Prabu Siliwangi meninggalkan Sumedang ke arah selatan menyusuri sungai Citanduy dan tiba di Nusa Kambangan, kemudian meneruskan berlayar di Pantai Selatan dengan sebuah perahu ke arah barat hingga ke Ujunggenteng, rombongan berbelok ke utara melewati muara Cimandiri sampai mereka menemukan tempat untuk membuang sauh, sejak itu tempat membuang sauh tersebut diberi nama Palabuhan Ratu. Rombongan Prabu Siliwangi kembali ke Pakuan Pajajran melalui jalur darat, selepas kepulangannya ke Pakuan Pajajaran, kerajaan itu semakin maju dan luas. Sementara tempat berlabuhnya sang Ratu sampai saat ini tetap disebut Palabuhanratu.

Toponimi Wjinkoops-baai

Namun, pada masa Hindia Belanda, Palabuhanratu sempat dikenal sebagai Wjinkoops-baai atau Wine-cooper bay, tercantum pada catatan-catatan dan peta bangsa eropa masa itu, Wijnkoops-baai berarti Teluk Wijnkoops, wijn atau wine apabila diterjemahkan adalah minuman anggur, nama teluk anggur ini terasa lebih misterius. Hasil penelusuran saya toponimi Wijnkoops ini berkaitan dengan daerah Sukabumi Selatan lainnya, Ujunggenteng dan Jampang. Sebelum dikenal Wijnkoops baai, kawasan Ujunggenteng lebih dahulu dikenal dengan nama Pointe de Wineroux/Winerou, Pt. Wineron, Vineron Point, Wine-cooper Point, atau Winkoop Mount/Bergen. Salah satunya peta Coronelli  circa tahun 1690 dan peta JJ Stockdale tahun 1811.

 

Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah
Peta Hindia Timur oleh Coronelli (C. 1690) yang menunjukan Winkoops M(Mount?) dikawasan Ujunggenteng
Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah
Peta Pulau Jawa oleh J. J. Stockdale (1811) yang menunjukan P. (Point) Winerou dikawasan Ujunggenteng

Mengapa nama tempat di Palabuhanratu, Ujunggenteng, dan Pajampangan sempat diidentikan dengan minuman anggur? Saya menemukan sedikit jawaban pada Peta Henri Chetalain tahun 1718 yang lebih awal memetakan pulau Jawa dengan rinci, pada bagian wilayah Jampang  ditulis dalam bahasa Perancis Mont des marchands de vin” yang berarti gunung pedagang anggur serta pada peta Isaak Tirion  berjudul “Nouva Carta delle Isole di Sunda come Borneo Sumatra e Iava Grande” sekitar 1760,  di kawasan Jampang ditulis dalam bahasa Italia sebagai Monti della compra del vino yang berarti Pegunungan pembelian anggur. Terasa janggal, bisnis ini melalui jalur selatan, tetapi  sebetulnya ini menandakan kerahasiaan, peta pulau jawa sebelum Chetalain banyak menggambarkan wilayah selatan  tidak seperti semestinya. Padahal VOC sudah aktif melakukan penjelajahan di wilayah selatan Jawa setidaknya sejak abad ke-17, keberadaan penjualan dan pembuatan anggur di Sukabumi Selatan adalah sebuah rahasia dan kepentingan bisnis mereka.

Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah
Peta Pulau Jawa oleh  Henri Chetalain tahun 1718 yang menunjukan kawasan Pajampangan sebagai gunung pedagang anggur
Toponimi Palabuhanratu dan Wijnkoops-baai Rifaldi Efriansyah
Bagian  Pulau Jawa, peta oleh  Isaak Tirion sekitar tahun 1760 yang menunjukan kawasan Pajampangan sebagai gunung pembelian anggur

Menurut Raffles, tanaman anggur sebetulnya akan tumbuh subur di  Pulau Jawa, namun VOC memperkirakan perkebunan di Pulau Jawa akan mengganggu produksi anggur di Tanjung Harapan (Cape Town, Afrika), sehingga sempat keluar larangan penanaman dan produksi anggur di Pulau Jawa. Ada dua kemungkinan, bisnis anggur di wilayah Sukabumi selatan terjadi sebelum ada aturan ini, tetapi secara singkat, atau setelah ada aturan tersebut, tetapi masih dilaksanakan secara diam-diam dan rahasia, saya kira dari dua kemungkinan, keduanya tidak berlangsung dengan lama, namun peristiwa sejarah yang ringkas ini, di mana Ujunggenteng menjadi titik utama (Point/Pt), meninggalkan jejak yang melekat dalam toponimi Wijnkoops baai di Palabuhanratu, yang sudah tidak digunakan lagi.

Ditulis:

Rifaldi Efriansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *